Kita ketahui bersama bahwa sebagian besar pengetahuan kita tentang indahnya diksi yang tersusun dalam Al-Quran muncul dari tafsir yang dikarang oleh ulama dan eksis sejak berabad-abad yang lalu. Kali ini, penulis akan mengutip tafsiran surat dalam tafsir Sirajul Munir karya Al-Khatib Asy-Syarbini (w. 977 H) tentang bagaimana cara Allah memperkenalkan diri-Nya dalam surat pertama Al-Qur’an, yaitu surat Al-Fatihah.
Allah tidak mengawali pesan-Nya dengan ancaman, bukan pula dengan keagungan yang menakutkan, tapi dengan kasih sayang—kasih sayang tiada batas yang selalu tercurah pada hamba-Nya.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ١
Artinya: Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. [Q.S. Al-Fatihah: 1]
Kalimat di atas bukan hanya sekadar pembukaan, tapi penegasan bahwa sebelum kita mengenal hukum-Nya, sebelum kita takut akan murka dan adzab dari-Nya, kita harus tahu bahwa kasih sayang Allah mendahului segalanya.
Lalu dalam surat yang sama, Dia menyebut lima nama-Nya.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ٢ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ ٣ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ ٤
Artinya: Segala Puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yang Menguasai hari pembalasan. [Q.S. Al-Fatihah: 2-4]
Al-Khatib Asy-Syarbini mengungkapkan bahwa Allah menyebut diri-Nya dalam lima nama: “Allah”, “Rabb”, “Ar-Raḥman”, “Ar-Raḥim”, dan “Malik Yaumid Din” (Pemilik hari pembalasan). Itu bukanlah suatu urutan biasa—tapi menggambarkan sebuah perjalanan indah untuk hamba-Nya, seolah-olah Allah sedang berbicara langsung pada hamba-Nya:
"Aku yang menciptakanmu dari tiada, maka Aku adalah Allah. Aku yang memeliharamu hari demi hari, memberi nikmat tanpa henti, merawat dan mengawasi, menjaga dan mengasihi, maka Aku adalah Rabb-mu. Lalu Aku tidak serta-merta menghukummu ketika engkau jatuh, berdosa, dan lupa—tapi Aku tutupi aib-aibmu dan Aku beri ruang untuk kembali, karena Aku adalah Ar-Raḥman. Dan saat engkau benar-benar kembali dengan hati yang penuh dengan penyesalan, dan engkau mengakui semua dosa-dosamu, Aku sambut taubatmu dengan penuh kelembutan—karena Aku adalah Ar-Raḥim."
Dan setelah semua itu, barulah disebut: Malik Yaumid Din, Pemilik hari pembalasan—Hari ketika semua akan diperhitungkan, tak ada yang bisa lari, tak ada yang bisa berdusta. Semua makhluk bergetar akan takutnya perhitungan amal, penimbangan antara kebaikan dan keburukan, serta melintasi shirath yang tampak jelas didepan mata. Secara impisit dari ayat ini Allah mengingatkan hamba-Nya:
“Dan pada akhirnya, setiap langkah akan dipertanggung jawabkan, setiap bisik hati akan dihadapkan, karena Aku-lah pemilik hari ini.”
Tapi lihatlah, kalimat Malik Yaumid Din hanya disebut satu kali—tegas, padat, dan sangat cukup untuk menggigilkan hati. Sedangkan penyebutan Ar-Raḥman dan Ar-Raḥim sebanyak dua kali (pada ayat pertama dan ayat ketiga) bukanlah kebetulan, bahkan menjadi isyarat yang nyata—seolah Allah ingin kita tahu, bahwa kasih sayang-Nya jauh lebih besar daripada murka-Nya. Dia ingin kita ingat: meski hisab itu nyata, rahmat-Nya selalu lebih dulu hadir. Dia Maha Adil, tapi juga Maha Lembut. Maka jangan heran jika yang paling sering disebut bukan murka, tapi cinta.
Bukan tentang orang-orang yang dimasukkan kedalam murka-Nya, tapi tentang orang-orang yang diampuni meskipun bergelimangan dosa. Bukan tentang kepergian seorang hamba, tapi tentang hamba yang tersesat berkali-kali, lalu menemukan jalan pulang. Karena begitulah cinta-Nya—lembut tapi kuat, sabar, dan tak tergesa-gesa untuk menghukum. Dia tidak menunggu kita sempurna untuk mendekat, justru menunggu bahkan saat kita merasa tidak pantas untuk mendekat. Dan bukankah itu yang sangat sering kita butuhkan? Bukan sekadar pengingat bahwa kita akan dihisab, tapi ampunan dan kasih sayang-Nya berlipat-lipat lebih luas dari murka-Nya.
← Kembali© 2025 IKADU MESIR. All Rights Reserved.