Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali menyita perhatian publik. Memasuki Agustus 2026, ribuan titik panas serta kebakaran hutan dan lahan terdeteksi melalui berbagai laporan satelit dan lembaga penanggulangan bencana. Pemerintah pun telah mengerahkan sejumlah unit pemadaman darat dan udara serta mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla di wilayah masing-masing.
Jika melihat beberapa dekade ke belakang, karhutla hampir menjadi acara tahunan di Indonesia, khususnya di wilayah Kalimantan. Pada tahun 1982, terjadi salah satu peristiwa kebakaran hutan terbesar di Provinsi Kalimantan Timur yang menghanguskan sekitar 3,2 hingga 3,6 juta hektare. Kemudian, pada tahun 1997–1998, sekitar 2,1 hingga 9,7 juta hektare hutan dan lahan terbakar di sejumlah wilayah, termasuk Sumatra, Papua, dan Kalimantan. Salah satu faktor yang memperparah kondisi tersebut adalah fenomena El Niño, yang menyebabkan kekeringan dan penurunan curah hujan sehingga musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering. Peristiwa serupa pun terus terjadi pada tahun-tahun berikutnya hingga saat ini. (Sumber: Detikcom)
Dari banyaknya peristiwa karhutla di Indonesia, Kalimantan menjadi salah satu wilayah yang tidak pernah absen dan selalu terdampak. Terlepas dari fenomena El Niño sebagai salah satu faktor yang meningkatkan risiko karhutla, aktivitas manusia juga tidak dapat diabaikan. Salah satunya adalah praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar yang masih dilakukan di sejumlah tempat. Praktik tersebut kerap dianggap lebih mudah dan murah, bahkan dengan anggapan bahwa abu hasil pembakaran dapat menjadi pupuk alami dan membantu mengurangi tingkat keasaman tanah.
← Kembali© 2025 IKADU MESIR. All Rights Reserved.