Logo IKADU Mesir

IKADU MESIR

Ikatan Keluarga Daarul Ukhuwwah Mesir

Buka Bersama IKADU Mesir

Problematika Umat Islam; Mengapa Umat Agama Ini Ibadahnya Baik, tetapi Muamalahnya Dipertanyakan?

Penulis: Andisal Nuzula Editor: Muhammad Yafi Dwi Ari Kusuma - 21 April 2026

Permasalahan ini sebenarnya adalah hal yang normal dan pada umat beragama lain, begitu juga dengan agama kita untuk akhir-akhir ini. Secara dasar, menukil pada buku IPUI karya Prof. Kuntowijoyo bahwasanya Islam itu berdiri diatas 2 pondasi yang harus kokoh. Pondasi pertama ialah pengertian, yang disana kita dapat memahami agama ini secara menyeluruh. Lalu pondasi kedua, ialah perbuatan, pondasi yang dimana mewajibkan seorang muslim untuk mengimplementasikan apa yang ia dapatkan daripada pondasi pertama kepada masyarakat dunia. Dari 2 pondasi diatas, terbentuklah seorang muslim sejati.

Akan tetapi realita hari ini menunjukkan hal yang berbeda. Tidak sedikit dari kita menemui sesama muslim yang bad-muamalah terhadap sesama manusia, bahkan terhadap alam sekalipun. Padahal pada dasarnya, seseorang yang Islam, mengetahui akan agamanya, selain menjadi seorang abid dan alim, ia memiliki kewajiban untuk menjadi seorang amil, yang pengertiannya adalah mengamalkan apa yang ia dapat daripada ilmu Islam. Bila seseorang itu telah faham betul bahwasanya Islam adalah agama yang tidak hanya mencakup aqidah saja, akan tetapi juga mencakup syari’ah, akhlak, dan peradaban seperti yang dinukil oleh Prof. Hamdi Zaqzuq dalam kitab al-muslimun fii muftariqit at-turuq, ia pasti akan memberikan contoh nyata dan keteladanan Islam kepada masyarakat dengan muamalahnya. Keadaan ini menyimpulkan bahwasanya umat ini masih terombang-ambing dalam ketidaktahuan terhadap Islam secara kaffah.

Mari kita sedikit mengambil contoh daripada keadaan umat Islam Indonesia hari ini. Tentu, ketika kita mendengar berbagai masalah yang sedang dihadapi Indonesia (korupsi, kemiskinan, nepotisme, dan lain-lain), kita akan sigap mencari solusi dari itu semua. Salah satu yang paling kita gaungkan sebagai umat muslim adalah solusi dari Islam itu sendiri. Kalimat “Islam adalah solusi” adalah kalimat yang tidak asing lagi ditelinga kita. Lantas, apa respons masyarakat atas kalimat itu? Akhirnya, beberapa mereka mengatakan bahwa sistem Islam telah rapuh, kaku, serta tidak relevan untuk bangsa dengan kemajemukannya ini.

Tentu, sebenarnya Islam itu sudah sempurna, mencakup segala aspek dan dapat menjawab segala macam pertanyaan dan problematika termasuk respons masyarakat tadi. Tetapi kita harus tetap memahami, kondisi mayoritas masyarakat saat ini bukanlah masyarakat yang mudah menelan asumsi-asumsi yang memiliki hasil jangka panjang. Sedikit contoh, dari berbagai macam pesta demokrasi yang dilaksanakan setiap lima tahunnya. Tidak sedikit dari kalangan masyarakat tidak enggan menolak “serangan fajar” yang diagresikan oleh caleg-caleg yang ada. tanpa basa-basi, masyarakat memilih uang itu daripada kepentingan visi-misi yang diusung oleh caleg tersebut. Ini memberikan kesimpulan bahwasanya masyarakat lebih condong tehadap penyelesaian masalah yang konkret daripada penyelesaian masalah yang panjang.

Melihat hal ini, tentu sebagai Muslim yang pandai, kita harus menjadikan ini sebagai “lapangan kerja” bagi siapapun yang telah mengemban amanah keilmuan Islam itu. Kembali pada sifat “nasionalisme” nabi terhadap tanah airnya (Makkah), kita patut untuk kembali mengimplementasikan sifat-sifat nabi terhadap tanah air kita sendiri. Miris rasanya ketika melihat beberapa bagian daripada kita yang tak henti-hentinya mengkritik dan ingin negara ini cepat sirna. Padahal seharusnya, sebagai seorang muslim sejati, kita patut untuk menegakkan nilai-nilai Islam itu pada masyarakat. Dan tentu, kunci dari ini semua adalah pada pembaharuan muamalah umat.

← Kembali