Logo IKADU Mesir

IKADU MESIR

Ikatan Keluarga Daarul Ukhuwwah Mesir

Buka Bersama IKADU Mesir

Seporsi Mandhi Sebelum Pulang

Penulis: Muhammad Fauzan Abdurrohman Editor: M. Yafi Dwi Ari Kusuma - 27 Agustus 2026

Senja menyisiri langit Kairo, menorehkan jingga di antara beluk awan yang membumbung tinggi, melukiskan gradasi sebagai tanda penghujung hari. Klakson silih berganti membisingkan sekitar, roda-roda kendaraan saling mendahului, teriakan penarik angkutan pun tidak kalah sepi.

Para mahasiswa Al-Azhar berhamburan keluar kampus, bersiap pulang ke rumah dengan kondisi hati yang beragam. Satu dua tersenyum, merasa ulangan tadi mudah dan bukan masalah besar. Namun, tak sedikit yang mengumpat, mengatakan kertas ulangan seperti pengintai, seolah tahu apa yang belum kita pelajari, itulah yang akan diuji.

Aku juga merasa sama, dari lima soal yang ada di kertas ulangan, hanya dua soal yang bisa kujawab —bukan berarti itu semua benar— dan sisanya kujawab dengan teks hafalan semalam. Walau tak sesuai dengan pertanyaan, setidaknya aku tidak menulis ulang pertanyaan, apalagi membiarkan lembar jawaban kosong. Lebih tepatnya agar hafalan semalam tidak sia-sia. Betapa sulitnya ujian tadi terus menghantui pikiranku sepanjang perjalanan pulang menggunakan tremco, hingga tak terasa aku sudah ada di kubri terakhir. Tempatku biasa turun.

Aku turun dari tremco, berjalan lemas di bawah kubri sambil membaca muqoror ulangan tadi. Menyesal hanya belajar lewat kisi-kisi yang masih jauh dari kata akid, bahkan bisa dibilang cuma rumor. “Kalo tiap ulangan kayak gini terus, gimana mau lulus?“ Pertanyaan ini selalu muncul di pikiranku. Tidak ada kata “setidaknya“ atau “untungnya”, sejak tadi yang muncul cuma “seandainya”. Azan Maghrib mulai berkumandang, memanggil para abid untuk segera menunaikan kewajiban. Aku pun masuk ke masjid terdekat untuk ikut jamaah. Walau sebenarnya aku termasuk pribadi yang lebih sering memilih shalat di rumah, tapi untuk kali ini hatiku menjadikan masjid adalah jawaban rasa gundahku.

***

Usai dari masjid, aku berencana pergi ke mat'am langgananku. Bukan mat'am Indo atau Mesir, tapi mat'am Yaman atau lebih sering ku kenal dengan sebutan “Hadramaut”. Di sini menurutku lebih dari sekedar menghidangkan makanan tapi juga banyak memori yang terukir di mat'am ini. Tempat pertama yang ku kunjungi saat tiba di Mesir dahulu bersama teman-teman. Bedanya, dulu kami bersemangat sambil membawa harapan masing-masing, sekarang hanya lemas sambil memikirkan perjuangan dan beban.

Aku pun berjalan menyusuri gang, di antara kafe dan toko-toko, hingga tinggal beberapa langkah masuk ke dalam mat'am, namun langkahku terhenti. Di samping mat'am itu terlihat seperti ada sesuatu tergeletak. Di dalam gelap malam dan semak memperlihatkan tubuh kecil seorang bocah Mesir bersama dengan kardus sebagai alas. Bocah itu antara tidur atau pingsan, yang pasti dia adalah gelandangan yang tak jarang bisa dijumpai di sepanjang wilayah Kairo ini.

Tapi entah kenapa aku merasa tidak bisa membiarkannya. Maksudku tempat ini sangat jarang dilintasi orang-orang, apalagi dengan kondisi gelap dan di dalam semak. Jadi aku memutuskan mendekati dan membangunkan bocah itu. “Ya sodiq! Yalla um, Bush hawlaik!” (Hai, bangun! Lihat sekitarmu!). Aku pun menggoyangkan pundak bocah tersebut dan saat kupegang sesuatu mengejutkanku. Tubuh anak ini seperti dahan kering, tak ada otot, tak ada lemak. Yang kurasa hanya ada tulang yang kapan pun bisa rapuh, benar- benar membuatku kaget. Niatku yang awalnya cuma membangunkan pun berubah untuk mengajaknya makan di mat'am. “Fulus, Fulus” ucap anak itu sambil membuka matanya. Suaranya serak parah bahkan seperti tak keluar. Aku melihat-lihat sekitar, tidak ada orang satupun. Apakah dia sendirian? Sudahlah yang terpenting mengisi perut bocah ini dulu. Aku pun membawanya ke mat'am.

Di dalam mat'am suasananya terasa lebih tenang. Lagu Yaman diputar pelan, menambah suasana malam yang sunyi menjadi syahdu. Kami pun duduk di bagian pojok, menunggu pelayan datang menawarkan menu. Saat ini mat'am terasa lebih sepi dari biasanya, justru ini bagus karena kami tidak terlihat mencolok, apalagi aku membawa bocah kumuh dari jalanan. Aku memutuskan memesan dua porsi Nasi Mandhi dengan sepotong ayam. Karena diantara menu-menu lain, menurutku ini yang paling cocok untuk orang yang baru mencicipi masakan Yaman. Aku berusaha membuka percakapan dengan basa-basi, tapi itu buruk. Entah antara anak ini tidak memahami apa yang kubicarakan, atau yang lebih buruk dia tidak mampu berbicara akibat kering tenggorokan. Akhirnya kuputuskan diam, hingga pesanan kami tiba. Si bocah dengan cepat langsung menyambar air minum dari pelayan, meneguknya cepat sampai tak bersisa. Aku awalnya sedikit terkejut, tapi perlahan berusaha memahami sifat anak ini. Kami pun makan pesanan masing-masing. Walau canggung terasa pekat di antara kita, tapi memang tujuan kita ke sini untuk makan. Bukan untuk interviu, apalagi diplomasi. Semua murni karena hanya anak ini kelaparan.

Tak lama hidangan pun tandas. Bocah itu juga sudah hampir selesai makan. Namun tiba-tiba “Ismi Zaid” terdengar pelan dari mulut anak di sampingku. Aku agak kaget, bukan karena tiba-tiba dia menyebut nama, tapi alasan dia tidak menjawab pertanyaanku tadi kemungkinan memang karena dia sudah tidak punya tenaga untuk bicara. Aku pun bingung harus bertanya apa, maksudku apa dia akan nyaman jika aku bertanya hal-hal tentang dirinya atau malah keberatan. “Ent min fiin?“ (kamu dari mana?) dia bertanya kepadaku, aku pun menjawab Indonesia. Dia mengangguk sambil menggaruk kepalanya. Aku yakin dia hanya menghargai jawabanku, tanpa tahu di mana itu Indonesia, jangankan di mana, mungkin dia juga tidak tahu kalau Indonesia itu nama negara.

Aku pun mulai bertanya satu dua hal ringan, tentang umur, tempat tinggal, sampai keluarganya. Dan yang dapat kusimpulkan semua tidak pasti. Anak ini bahkan tidak bisa menghitung hari, nama daerah, bahkan nama orang tuanya nihil. Aku menghembuskan nafas, antara kecewa dan prihatin dengan kondisi Zaid. Jika menurut perkiraanku, dia seperti anak 5-6 tahun. Tapi itu tetap tidak valid. Setelah sedikit percakapan kami pun menyudahi semuanya, setidaknya Zaid masih bisa makan malam ini. Setelah membayar pesanan, aku merogoh saku celana, berencana memberi uang ke Zaid. Tapi kuurungkan saat tiba-tiba seorang bapak-bapak masuk ke mat'am dengan singlet putih bergambar elang di dada. Ia berjalan ke arah kami berdua sambil menatap sinis.

“Ma Andaksh Shugul?!” (Apa kamu ga punya kerjaan?) Katanya sambil menatapku sinis. Mendekati Zaid sambil mencengkeram erat tangannya. Zaid cuma pasrah dengan tatapan kosong. Aku pun cuma bisa diam menyaksikan itu semua. Menghindari akan terjadinya keributan.

Pria itu menarik Zaid keluar mat'am. Tak ada basa basi, tak ada klarifikasi. Suasana tegang dan canggung terasa semakin pekat. Aku pun hanya bengong melihat dua orang itu pergi, hingga di mulut pintu mat'am, Zaid menoleh ke arahku dengan senyum tipis dan lambaian tangan lemah. Senyum pertama yang kulihat. Mungkin juga senyum pertamanya setelah berbulan-bulan.

Aku pun kembali membereskan barang- barang dan bersiap pulang. Tak ada rasa kesal atau sesal, malah terasa lega sempat melihat Zaid mengeluarkan senyum itu. Soal bapak bersinglet elang? Entah itu hal yang sudah sangat lumrah bagiku. Orang tak tahu terima kasih, atau bahkan protes saat sudah ditolong, sudah jadi hal yang tidak bisa diherankan lagi. Aku keluar dari Hadramaut, melangkah ke jalan hingga tiba-tiba “Deg! “.

Entah apa yang terjadi, tubuh terasa aneh. Bukan, bukan tubuhku tapi perasaan yang tiba-tiba mempertanyakan, “Apa yang barusan kulakukan tadi?“. Entah kesadaran normalku seperti kembali. Sejak kapan aku peduli orang? Kok, aku bisa seberani itu mengajak makan seorang bocah yang bahkan aku tidak mengenalnya? Mungkin kepribadian ganda? Atau sesuatu mengendalikanku? entahlah rasanya aku benar-benar heran dengan diriku beberapa menit lalu. Mungkin aku butuh rumah dan istirahat. Hari ini benar-benar melelahkan.

***

Esok dan esoknya, hari-hariku berjalan normal kecuali tentang satu hal. Hampir setiap pagi aku melihat Zaid, tidak sedang tersenyum, tidak sedang menyantap biryani. Tapi berjalan pincang layaknya daun kering tak berdaya. Di sampingnya ada sosok menyebalkan bersinglet, hanya duduk menjadikan anak kecil itu alat empati para pejalan kaki. Aku tidak tahu dia siapa. Mungkin ayahnya atau juragan pengemis yang memperkerjakan anak-anak yang tidak beruntung itu. Tapi saat ini, setiap aku melihat Zaid pribadiku di malam itu seperti ingin kembali. Rasa ingin mengajaknya ke mat'am Yaman bergejolak tapi seperti tak kan bisa terulang. Padahal dia hanyalah satu dari ratusan anak yang memiliki nasib sama, bahkan tak jarang kutemukan yang lebih parah.

Hingga hari ini, tidak pernah ada solusi terbaik untuk anak-anak seperti mereka. Lingkungan yang buruk. Para juragan yang semakin menjadi. Petinggi yang pura-pura menutup diri. Bahkan orang tua mereka sendiri, yang tak jarang menjadikan mereka alat empati.

Ya Rabb, entah apa yang telah Engkau siapkan bagi anak-anak seperti mereka. Mereka mungkin belum tahu bahwa hidup yang mereka jalani adalah sebuah ujian. Mereka bahkan mungkin belum tahu bahwa ada kehidupan lain selain trotoar yang setiap pagi mereka pijak. Aku hanya bertanya-tanya, apakah mereka pernah memiliki mimpi?

← Kembali