Logo IKADU Mesir

IKADU MESIR

Ikatan Keluarga Daarul Ukhuwwah Mesir

Buka Bersama IKADU Mesir

Start with Nilai, Kunci Keberhasilan Sebuah Pengabdian

Penulis: Muhammad Yafi Dwi Ari Kusuma Editor: Muhammad Difa Asmi - 31 Maret 2026

A. Teori Golden Circle dan Berpikir Kritis

Dalam buku milik Simon Sinek yang berjudul “Start with Why”, menjelaskan sebuah konsep yang diterapkan oleh perusahaan dan tokoh besar dunia—seperti Apple, Martin Luther King Jr., dan Wright bersaudara. Mereka menjadikan “why” sebagai langkah awal dari tujuan besar yang mereka ingin capai. Dalam konsep ini juga, Simon Sinek menerapkan “The Golden Circle”, sebuah kerangka kerja untuk memahami mengapa sebuah organisasi itu eksis.

Simon Sinek’s Golden Circle memiliki tiga level yang sangat berpengaruh jika diterapkan: a.) why, adalah tujuan dan alasan dari dibentuknya organisasi; b.) how, adalah jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan tertinggi dari komunitas; c.) what, realisasi atau produk yang ditawarkan oleh organisasi. Konsep ini memungkinkan pelaku organisasi lebih terinspirasi dan mengetahui tujuan mereka, sehingga bisa menaikkan taraf keberhasilan.

Konsep ini dapat diterapkan pada seluruh aspek, bahkan kegiatan harian seseorang. Misal, sekarang saya makan. Dengan memakai Golden Circle, saya bisa tau kenapa dan untuk apa saya makan, bagaimana cara saya makan, dan apa yang saya makan. Atau memakai contoh, saya menulis tulisan ini. Saya tau tujuan saya menulis ini, pembaca paham arah saya ketika membaca tulisan ini, bagaimana teori dan konsep ini dilakukan, dan apa saja hal yang perlu diperhatikan.

Teori Simon Sinek ini mengedepankan kemampuan berpikir kritis manusia. Karena berpikir kritis mampu membawa manusia menuju sebab akibat dan segala hal yang logis. Saat merumuskan “why”, manusia perlu mengetahui sebab akibat dan kemungkinan logis yang bakal terjadi. Tanpa landasan kritis dan logis, manusia akan sulit mengarahkan dirinya sesuai dengan masalah dan tujuan yang dia inginkan.

Namun ironi hari ini, banyak dari manusia—baik yang berpendidikan dalam artian dia mampu menjangkau ke ilmu ini, atau mereka yang tidak sampai di derajat ini melupakan pentingnya berpikir kritis. Mereka sedikit meremehkan pentingnya pemikiran kritis ini. Contoh nyata adalah Ketika seorang mahasiswa ikut dan berpartisipasi dalam sebuah kegiatan, ia bahkan tidak tau kenapa dirinya di sana. Kebanyakan hanya FOMO (fear of missing out) dengan tren yang ada. Iming-iming relasi selalu menjadi pondasi mereka dibanding tujuan yang seharusnya mereka bisa dapat dari hal tersebut.

B. Bahaya Budaya Ikut-Ikutan

Budaya ikut-ikutan mungkin sudah bukan hal asing hari ini. Ketika seorang mahasiswa ditanya, “Eh, kenapa ikut ormawa (Organisasi Mahasiswa) ini?”, mereka bahkan belum bisa memberikan jawaban yang relevan dan masuk akal. Kebanyakan menjawab dengan ikut teman atau ormawa ini menarik dan terkenal. Lalu mengapa ikut-ikutan terkesan buruk?

1. Kehilangan “why”

Senada dengan teori sebelumnya, mereka yang hanya ikut-ikut dalam melakukan sesuatu akan kehilangan “why” dan kemampuan reasoning dirinya. Mereka hanya akan fokus pada “what” atau apa yang dilakukan orang lain. Dampaknya, kelelahan mental akan menggerogoti dirinya, karena visi yang tidak jelas, dia akan mudah diserang oleh burnout dan lelah secara mental.

2. Abrasi kemampuan berpikir kritis

Hal ini merupakan dampak jangka panjang yang diakibatkan oleh ikut-ikutan. Malas dalam berpikir dan membaca diri lama-lama akan menjadikan seseorang lupa cara berpikir dengan benar ibarat ausnya pisau yang awalnya tajam. Hingga akhirnya dia lupa cara menganalisis masalah, validasi data, dan menentukan status kebenaran suatu hal. Sandaran mereka adalah apa yang dikatakan orang banyak, semakin banyak yang membenarkan, semakin valid hal tersebut.

3. Risiko kolektif

Dalam hal organisasi, berpikir kritis adalah kebutuhan fundamental anggotanya. Keputusan yang tidak disertai kritis akan membawa program menuju ketidakefisieanan. Gelontoran dana yang bahkan dikeluarkan untuk sesuatu yang tidak berdampak, tenaga saat rapat yang hanya membuahkan kekosongan. Tak lama, mereka akan secara bersamaan jatuh ke dalam jurang kehancuran organisasi.

C. Mengabdi dengan Nilai

Nilai, sebuah hal yang seharusnya semua organisasi miliki. Untuk apa sebuah kelompok eksis jika mereka tidak memiliki nilai yang mereka junjung. Seluruh programnya dilandasi dengan kompetensi pembacaan masalah yang baik, sehingga program datang sebagai pemecah hal tersebut. Mengefisiensikan sumber daya yang ada agar dapat membuahkan hasil berupa manfaat nyata dan berdampak.

Seluruh elemen pengabdi memiliki peran penting untuk menjaga nilai. Anggota yang suportif dan aktif dalam memberi dampak, serta ketua yang berintegritas dalam berperilaku. Kebaikan sebuah kelompok tidak hanya dapat dinilai dengan kesempurnaan. Sebuah nilai yang sering hilang adalah kejujuran dan keikhlasan. Posisi yang tinggi tidak berarti membuat seseorang instantly terkenal dan memberi dampak. Seorang pemimpin yang harus selalu memberi contoh dan mengarahkan dengan cara manusiawi, tidak memaksa jika ada yang tidak sanggup, serta toleransi terhadap segala bentuk kesalahan dengan evaluasi yang membangun.

Organisasi yang menerapkan Golden Circle dapat mudah menghindari isu-isu yang mainstream terjadi, seperti burnout atau ketidakpuasan target. Karena Golden Circle selalu menekankan permulaan dengan “why”, bukan “how” bahkan “what”. Ketika nilai sudah menjadi alasan kuat, setiap Lelah akan berubah menjadi dampak yang memiliki harga, tetes keringat dan peluh air mata memberikan arti dan makna, baik bagi pelaku maupun target.

D. Penutup

Jika seseorang diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan di masa lalunya, ia akan mulai berpikir dengan sebab akibat. Ia sudah tau apa akibat jika dia melakukan hal ini, dan tau bagaimana cara menghindari kesalahan itu. Tapi, masa lalu tetap bukan sesuatu yang bisa diulang. Solusi terbaik adalah menghadap kedepan, tentu dengan mulai membuat keputusan dengan berpikit. A man won’t fall in the same hole twice. Hal ini menandakan kemampuan belajar dari kesalahan yang seharusnya kita terus pertahankan.

Menjadi pertanyaan selanjutnya bagi semua orang, sudahkah kita berperilaku dengan alasan? Apakah organisasi ini relevan dengan tujuan kalian? Apakah sebagai ketua aku sudah membawa anggota ke arah yang benar sesuai tujuan? Apakah sebagai pelajar kegiatan sehari-hari sudah menunjang tujuan besar kalian? Apakah duduk di majelis ilmu adalah alasan kalian untuk bangun tiap paginya? Semua memiliki jawaban masing-masing. Tugas selanjutnya adalah menemukan jawaban itu. Sekian.

← Kembali